Manfaat Kurma

SELASARNEWS.COM – BUAH kurma umumnya dikonsumsi masyarakat muslim selama Ramadan untuk berbuka puasa karena dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Buah manis kaya nutrisi ini disebut sebagai salah satu makanan paling sehat di dunia. Sebab, kurma tidak hanya mengandung gula, tetapi juga memiliki kandungan lain seperti mineral, vitamin, antioksidan, hingga serat yang baik bagi pencernaan. Keragaman varietas, spesies, dan jenis buah kurma, baik lembut, setengah kering, maupun kering, memberikan konsumen banyak pilihan untuk mengonsumsinya.

K.M. Farag mencatat dalam “Date Palm: A Wealth of Healthy Food”, termuat di Encyclopedia of Food and Health, kurma telah menjadi makanan pokok di banyak wilayah di dunia, terutama di zona kering dunia lama dan menjadi bagian dari konsumsi makanan sepanjang tahun. Bahkan, di dunia baru dan Eropa, buah kurma menarik perhatian masyarakat dan ahli gizi karena kandungan glukosa dan fruktosa yang tinggi. Dilaporkan bahwa satu pon kurma atau sekitar 453 gram buah manis itu dapat memberikan tubuh manusia 5,33 kl energi fisiologis.

Sebuah studi perbandingan dilakukan untuk menunjukkan kandungan buah kurma dengan empat jenis makanan, yaitu susu sapi, daging, madu, dan jus jeruk. Hasilnya, kandungan protein dalam kurma sangat dekat dengan susu sapi, tetapi lebih tinggi daripada protein dalam madu atau jus jeruk segar. Sementara itu, buah kurma unggul dibandingkan keempat jenis makanan lain dalam kandungan kalium. Kalsium dalam kurma juga tiga kali lebih tinggi daripada kalsium dalam daging sapi, dan lima belas kali lebih tinggi daripada kalsium dalam madu. Sedangkan jika dibandingkan dengan susu sapi, kurma memiliki sekitar setengah kandungan kalsium.

“Selain itu, kandungan fosfor dalam 100 gram kurma mengandung sekitar dua pertiga dari yang terdapat dalam susu sapi, tetapi tiga kali lebih tinggi daripada yang terdapat dalam madu. Zat besi jauh lebih tinggi dalam buah kurma dibandingkan dengan susu sapi, madu, atau jus jeruk…. Bahkan karoten dalam kurma jauh lebih besar daripada yang terdapat dalam susu sapi atau jus jeruk. Karoten ini merupakan antioksidan penting untuk melindungi tubuh dari kanker,” jelas Farag.

Baca Juga  Manfaat Daun Kelor untuk Kesehatan: Apa Kata Riset?

Berbagai manfaat yang terkandung di dalamnya membuat kurma menjadi komoditas buah utama di sejumlah wilayah dari masa ke masa. Pohon kurma (Phoenix dactylifera L.) yang semula tumbuh liar akhirnya dibudidayakan. Menariknya, bukan hanya bagian buah kurma yang dimanfaatkan, menurut R. Al-Yahyai dan A. Manickavasagan dalam “An Overview of Date Palm Production”, termuat di Dates: Production, Processing, Food, and Medicinal Values, di samping memainkan peran penting dalam status gizi masyarakat, produk sampingan dari pohon kurma juga digunakan dalam konstruksi bangunan, pakan ternak, serta dalam beberapa barang seperti keranjang dan tali. Bahkan, tak sedikit pula yang menanam pohon kurma sebagai tanaman hias.

Selain di kebun, pohon kurma secara tradisional juga ditanam di dekat rumah, di mana tanaman ini kerap dimanfaatkan sebagai penyaring udara. Daun-daun yang dekat dengan lubang ventilasi udara akan membersihkan udara dari debu sebelum masuk ke dalam rumah. Bila menilik pada manfaat pohon kurma, batang pohonnya dapat digunakan untuk membuat jembatan sederhana, dermaga, dan rakit. Tak jarang batang-batang pohon itu dipotong menjadi dua bagian dan bagian dalamnya dikosongkan sehingga dapat berfungsi sebagai pipa terbuka untuk irigasi lahan.

“Ada pula yang menggunakan batang pohon kurma untuk pintu, atap, tangga, dan pagar. Sebuah tradisi menyebutkan bahwa masjid pertama Nabi di Madinah, yang dibangun sekitar tahun 630, dibangun hampir seluruhnya dari batang pohon kurma, serta atap dan karpet salat terbuat dari daunnya… Pada zaman dahulu, batang pohon kurma juga berfungsi sebagai alat hukuman mati. Dalam ayat Al-Qur’an tentang Musa 20:71, misalnya, Firaun mengancam para penyihirnya yang percaya pada pesan Musa, dengan mengatakan bahwa dia akan mengikat mereka (kata kerja Arab salaba) ke batang pohon kurma setelah memotong tangan dan kaki mereka,” tulis sejarawan kuliner Nawal Nasrallah dalam Dates: A Global History.