SELASARNEWS.COM – Daun mangga telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional terutama di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Banyak masyarakat meyakini rebusan daun mangga menurunkan gula darah, meredakan peradangan, hingga memperbaiki pencernaan. Dalam Handbook of Medicinal Plants disebutkan bahwa praktik tradisional ini telah digunakan secara turun-temurun.
Namun sifat terapeutiknya perlu dipastikan melalui penelitian farmakologis modern. Hal ini menunjukkan bahwa klaim tradisional memang ada, tetapi validitasnya harus diuji secara ilmiah.
Secara ilmiah, salah satu senyawa paling penting dari daun mangga yakni mangiferin. Mangiferin merupakan xanton alami yang memiliki aktivitas antioksidan tinggi. Dalam jurnal Phytotherapy Research dilaporkan memiliki efek antidiabetes, antiinflamasi, dan imunomodulator.
Penelitian ini menjelaskan bahwa mangiferin meningkatkan sensitivitas insulin dan menekan stres oksidatif yang berperan dalam perkembangan diabetes tipe 2. Temuan ini memberikan dasar ilmiah bahwa manfaat daun mangga bukan sekadar mitos.
Selain mangiferin, daun mangga juga kaya flavonoid, terutama quercetin dan katekin. Buku Plant Polyphenols: Biological Activity menjelaskan bahwa flavonoid memiliki kemampuan menangkal radikal bebas dan melindungi sel dari kerusakan.
Senyawa inilah yang menjelaskan mengapa ekstrak daun mangga sering dikaji dalam konteks kesehatan kardiovaskular dan antiinflamasi. Flavonoid mampu menurunkan peradangan tingkat rendah yang sering menjadi pemicu penyakit kronis.






