“Festival Kebudayaan Jawa ini diadakan mengingat salah satu alasan orang datang ke suatu negara atau destinasi adalah ketertarikan pada budaya. Ketertarikan budaya wisatawan atau orang umum itu sangat tinggi dan mempelajari suatu budaya itu butuh waktu lama,” jelas Daryono.
Selain itu, pihaknya mengadakan survei kecil untuk melihat sejauh mana minat milenial terhadap jurusan budaya. Ternyata hasilnya cukup miris, di Solo anak yang tertarik pada bidang seni budaya hanya 20 persen, sedangkan Soloraya 40 persen, dan sisanya dari luar kota.
“Ini tentunya menjadi satu perhatian, apalagi pemerintah kota selalu menekankan ‘Solo Masa Depan adalah Solo Masa Lalu’. Kami menyadari betul peradaban budaya ini harus berkelanjutan, untuk itu ada satu event yang bisa mengangkat kembali budaya Jawa ke generasi muda,” kata Daryono.
Diungkapkan, Dalem SISKS Pakoe Boewono X menyampaikan Kuncara Ruming Bangsa Dumunung Haning Luhuring Budaya. Artinya, keluhuran suatu bangsa terletak di keluhuran budayanya.
“Untuk itulah kegiatan Festival Kebudayaan Jawa ini diadakan karena layak dikemas sebagai konservasi dan daya tarik utama Solo sebagai kota budaya. Pelestarian budaya ini butuh dukungan semua pihak,” ujar Daryono.
Adapun peserta Festival Kebudayaan Jawa ini melibatkan pelaku seni budaya praktis dan akademis seni budaya Jawa, sanggar dan komunitas seni budaya, serta tokoh masyarakat Jawa di Solo, pemerintah pusat hingga pengamat. (rum)








